Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Iklan

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Engkau segalanya

Kepada siapa kita memohon ..

Kepada siapa kita bersujud ..

Kepada siapa kita mengeluhkan semua beban ini ..

Aku hanya memilikiMu, dan aku tak bisa menyembunyikan ini dariMu. 😫😭😭

Aku yakin Engkau selalu bersama ku ..

Ya roob engkau pemilik segalanya .. Dan hanya Engkau yang maha mengetahui. Mudahkan ya roob #Aamiin

Biografi dan Pemikiran Tokoh Filsafat Islam IBNU SINA

Ibnu Sina adalah Filosof Muslim yang mengembangkan Falsafat Klasik Islam kepuncak tertinggi dan diberi gelar “ pangeran para Dokter”. Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali Al-Husain Ibnu ‘Abd Allah Ibn Hasan Ibnu ‘Ali Ibn Sina. Di Barat populer dengan sebutan “Avicenna” akibat dari terjadinya metamorfose Yahudi-Spanyol-Latin. Dengan lidah Spanyol kata Ibnu diucapkan Aben atau Even. Terjadi perubahan ini berawal dari usaha penerjemahan naskah-naskah Arab kedalam bahasa Latin pada pertengahan abad ke-12 di Spanyol. Ibnu Sina dilahirkan di desa Afshanah, dekat Kharmaitan, kabupaten Balkh, wilayah Afghanistan Propinsi Bukhara- yang sekarang masuk daerah Rusia. Ibnu Sina lahir pada masa kekacauan, dimana Khalifah Abasiah mengalami kemunduran, dan negeri-negeri yang mula-mula dibawah kekuasaan Khilafah tersebut memisahkan diri untuk berdiri sendiri. Sedangkan Baghdad sebagai pusat pemerintahan dan juga merupakan pusat ilmu pengetahuan jatuh ketangan Bani Buwaih (334 H).
Ibnu Sina berdasarkan pengamatan dan penyelidikan para ahli, lahir pada 370 H/ 980 M dan meninggal dunia pada tahun 428 H/1037 M dalam usia 58 tahun. Wafat dan jasadnya dikebumikan di Hamadzan. Ibunya bernama Astarah, sedangkan Ayahnya bernama Abdullah seorang Gubernur dari suatu Distrik di Bukhara pada masa Samaniyyah-Nuh II bin Mansur. Ibnu Sina sejak usia muda selain telah hafal Al-Qur‘an seluruhnya dalam usia 10 tahun, ia dalam usia kurang lebih 17 tahun telah menguasai beberapa disiplin ilmu seperti matematika, logika, fisika, kedokteran, astronomi, hukum, dan lainnya, juga falsafat yang berkembang dimasanya.
Pada usia 17 tahun, dengan kecerdasannya yang sangat mengagumkan, ia sudah tampil sebagai Dokter dan berhasil menyembuhkan penyakit Sultan Bukhara, Nuh Ibn Mansur, dari Dinasti Samaniyyah. Sejak itu ia dapat leluasa memasuki perpustakaan Istana Bukhara, Kutub Hana. Ia juga pernah diangkat menjadi Menteri oleh Sultan Syams Al- Dawlah yang berkuasa di Hamdan dan menjadi penasihat politik di Isfahan, sebagai sebagai pengakuan atas kematangannya dalam ilmu pengetahuan dan falsafat dan atas kepemimpinannya dalam politik ia dikenal dengan gelar “Al-Syaykh Al-ra’is”.
Diantara guru yang mendidiknya ialah Abu ‘Abd Allah Al-Natili dan Isma’il sang Zahid.[8] Karena kecerdasan otaknya yang luar biasa, ia dapat menguasai semua ilmu yang diajarkan kepadanya dengan sempurna, bahkan melebihi sang guru. Kemampuan Ibnu Sina dalam bidang Filsafat dan kedokteran, keduanya sama beratnya. Dalam bidang kedokteran ia mempersembahkan Al-Qanun fit-Thibb-nya, dimana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran, sebab kitab ini selain lengap, disusunnya secara sistematis. Dalam bidang materia medeica, Ibnu Sina telah banyak menemukan bahan nabati baru Zanthoxyllum budrunga– dimana tumbuh-tumbuhanini banyak membantu terhadap beberapa penyakit tertentu seperti radang selaput otak (miningitis).
Ibnu Sina pula sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana 600 tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia pulalah yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya. Dia jugalah yang mula-mula mempraktekan pembedahan penyakit-penyakit bengkak yang ganas , dan menjahitnya. Dan last but not list dia juga terkenal sebagai dokter jiwa.
Karya Tulis yang dihasilkan Ibnu Sina cukup banyak. Kebanyakan penulis menegaskan bahwa jumlahnya tidak kurang dari 276 buah, dalam buku dan risalah, dan dalam bentuk karangan ilmiah biasa (prosa) atau dalam bentuk syair. Karya-karya ini sebagian besar berbahasa Arab, tapi sebagian kecil dalam bahasa Persia. Diantara karangan-karangan ibnu Sina adalah:
Kitab Al-Syifa’ (The book of Recovery or the book of Remedy)
Merupakan buku tentang penemuan, atau buku tentang Penyembuhan. Buku ini dikenal didalam bahasa latin dengan nama Sanatio atau Sufficienta. Terdiri dari 18 jilid. Naskah selengkapnya sekarang ini tersimpan di Oxford University London. Mulai ditulis pada usia 22 tahun (1022 M), dan berakhir pada tahun wafatnya (1037 M). Isinya terbagi atas 4 bagian, yaitu Ketuhanan, Fisika, Matematika dan Logika.
Kitab Al- Najat
Merupakan ringkasan dari Kitab Al-Syifa’ , tapi yang dibicarakan didalamnya hanya logika, Fisika, dan Metafisika (ketuhanan).
Kitab Al-Qanun fi al-Thibb
Berisikan ilmu kedokteran. Menjadi pegangan wajib di Universitas Eropa sampai XVII M.
Kitab Al-Isyarat wa al-Tanbihat
Terdiri dari 3 jilid, yang berisikan uraian tentang logika dan hikmah. Merupakan karya terakhir yang dihasilkan Ibnu Sina.
Filsafat
Al- Tawfiq ( Rekonsiliasi) antara Agama dan Filsafat
Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga mengusahakan pemaduan antara Agama dan Filsafat. Menurut nabi dan Filosof menerima kebenaran dari sumber yang sama, yakni Malaikat Jibril yang juga disebut Akal kesepuluh atau aktif. Perbedaannya hanya terletak pada cara memperolehnya, bagi nabi terjadinya hubungan dengan Malikat Jibril melalui akal materiil yang disebut hads (kekuatan suci, qudsiyyat), sedangkan filsofot melalui akal Mustafad. Nabi memperoleh akal materil yang dayanya jauh lebih kuat daripada akal Mustafad sebagai anugrah Tuhan kepada orang pilihan-Nya. Sementara itu, filosof memperoleh Akal mustafad yang dayanya jauh lebih rendah dari pada akal materil melalui latihan berat. Pengetahuan yang diperoleh Nabi disebut Wahyu, berlainan dengan pengetahuan yang diperoleh filosof hanya dalam bentuk Ilham, tetapi antara keduanya tidaklah bertentangan.
Ibnu Sina, sebagaimana Farabi, juga memberikan ketegasan tentang perbedaan antara para Nabi dan para Filosof. Mereka yang disebut pertama, menurutnya adalah manusia pilihan Allah dan tidak ada peluang bagi manusia lain untuk mengusahakannya dirinya jadi nabi. Sementara itu, mereka yang disebut kedua adalah manusia yang mempunyai intelektual yang tinggi dan tidak bisa menjadi Nabi.
Dalam pandangan Ibnu Sina, para Nabi sangat diperlukan bagi kemaslahatan manusia dan alam semesta. Hal ini disebabkan para Nabi dengan para mukjizatnya dapat dibenarkan dan diikuti manusia. Demikianlah uraian Ibnu Sina dan dengan demikian ia bukan saja mengakui adanya Nabi/Rasul dan Kenabian/Kerasulan, melainkan juga menegaskan bahwa Nabi/Rasul lebih unggul dari filosof.
Ketuhanan
Ibnu Sina membuktikan adanya Tuhan (Isbat Wujud Allah) dengan dalil wajib al-wujud dan mumkin al-wujud mengesankan duplikat Al-Farabi. Dalam Filsafat wujudnya, bahwa segala yang ada ia bagi pada tingkatan dipandang memiliki daya kreasi tersendiri sebagai berikut :
Wajib Al–Wujud, esensi yang tidak dapat tidak mesti mempunyai wujud. Esensi yang tidak bisa dipisahkan dari wujud, keduanya adalah sama dan satu. Esensi ini tidak dimulai dari tidak ada kemudian berwujud, tetapi ia wajib dan mesti berwujud selama-lamanya. Jauh Ibnu Sina membagi wajib al-wujud kedalam wajib al-wujud bi dzatihi dan wajib al-wujud bi ghairihi. Kategori yang pertama ialah yang wujudnya dengan sebab zatnya semata, mustahil jika diandaikan tidak ada. Kategori yang kedua ialah wujudnya yang terkait dengan sebab adanya sesuatu yang kain diluar zatnya. Dalam hal ini Allah termasuk pada apa yang pertama (wajib al-wujud li dzatihi la li syai’in akhar).
Mumkin al-wujud, Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak berwujud. Dengan istilah lain, jika ia diandaikan tidak atau diandaikan ada, maka tidaklah mustahil, yakni boleh ada dan boleh tidak ada. Mumkin al-wujud dapat pula dilihat dari sisi lainnya, karena dirinya sendiri, tidaklah lain dari segenap alam yang diciptakan Tuhan.
Mumtani’ al-wujud, Esensi yang tidak dapat mempunyai wujud seperti adanya sekarang ini juga kosmon lain disamping kosmos yang ada.
Sebagaimana Farabi, Ibnu Sina juga berpendapat bahwa ilmu Allah hanya mengetahui yang universal (kully) di alam dan ia tidak mengetahui yang parsial. Ungkapan terakhir ini dimakudkan Ibnu Sina bahwa Allah mengetahui yang parsial ini secara tidak langsung, yakni melaui zatnya sebagai sebab adanya alam.Dari pendapat Ibnu Sina berusaha mengesakan Allah semutlak-mutlaknya dan ia juga memelihara kesempurnaan Allah. Jika tidak demikian, tentu ilmu Allah yang maha sempurna akan sama dengan sifat ilmu manusia, bertambahnya ilmu membawa perubahan pada esensi manusia.
Emanasi (pancaran)
Teori emanasi Ibnu Sina hampir tidak berbeda sama sekali dengan teori emanasi yang dikemukaan oleh Farabi.
Adapun proses terjadinya pancaran tersebut ialah ketika Allah wujud (bukkan dari tiada) sebagai akal (‘aql) langsung memikirkan (berta’aqqul) terhadap zat-Nya yang menjadi objek pemikiran-Nya, maka memancarlah akal pertama. Dari akal pertama ini memancarlah akal kedua, jiwa pertama dan langit pertama. Demikianlah seterusnya sampai akal sepuluh yang sudah lemah dayanya dan tidak dapat menghasilkan akal sejenisnya, dan hanya menghasilkan jiwa kesepuluh, bumi, roh, materi pertama yang menjadi dasar bagi keempat unsur pokok : air, udara, api, dan tanah.
Sejalan dengan Filsafat emanasi, alam ini kadim karena diciptakan oleh Allah sejak Qidam dan Azali. Akan tetapi, tentu saja Ibnu Sina membedakan antara kadimnya Allah dan alam. Perbedaan yang mendasar terletak pada sebab membuat alam terwujud. Keberadaan alam tidak tidak didahului oleh zaman, maka alam kadim dari segi zaman (taqaddum zamany). Adapun dari segi esensi, sebagai hasil ciptaan Allah secara pencaran, alam ini baharu (hudus zaty). Sementara itu Allah adalah taqaddum zaty, ia sebab semua yang ada dan ia adalah pencipta alam. Jadi, alam ini baharu dan qadim. Baharu dari segi esensi, dan qadim dari segi zaman.

Jiwa
Kata jiwa dalam Al-qur’an dan Hadis diistilahkan dengan al-nafs (jiwa) atau al-ruh (imateri) yang berada dalam tubuh. Secara garis besar pembahasan Ibnu Sina tentang jiwa terbagi menjadi 2 bagian namun Fisika, membicarkan tentang jiwa tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.
Jiwa Tumbuh-tumbuhan, mempunyai 3 daya yaitu makan, tumbuh, dan berkembang biak. Jadi, jiwa pada tumbuhan hanya berfungsi untuk makan, tumbuh dan berkembang biak.
Jiwa Binatang mempunyai 2 daya yaitu gerak dan menangkap. Daya yang terakhir ini menjadi 2 bagian:
Menangkap dari luar dengan pancaindra
Menangkap dari dalam dengan indra-indra batin
Dengan demikian jiwa binatang lebih tinggi fungsinya daripada jiwa tumbuh-tumbuhan, bukan hanya sekedar makan, tumbuh dan berkembang biak, tetapi telah dapat bekerja dan bertindak serta telah merasakan sakit dan senang seperti manusia.
Jiwa Manusia, yang disebut juga al-nafs al-nathiqat, mempunyai 2 daya yaitu Praktis dan teoritis. Daya praktis hubungannya dengan jasad, sedangkan daya teoretis hubungannya dengan hal-hal yang abstrak. Daya teoretis ini mempunyai 4 tingkatan yaitu:
Akal materiil (al-‘aql al-hayulany) yang semata-mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikit.
Akal malakat (al-‘aql bi al-malakat) yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal-hal yang abstrak.
Akal aktual (al-‘aql bi al-fi’l) yang telah dapat berfikir tentang hal-hal abstrak.
Akal Mustafad (al-‘aql al-mustafad) yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal-hal abstraktanpa perlu daya upaya. Akal seperti inilah yang dapat berhubungan dan menerima limpahan ilmu pengetahuan dari akal aktif.

Metafisika, membicarakan tentang hal-hal sebagai berikut:
Wujud jiwa
Dalam membuktikan adanya jiwa, Ibnu Sina mengemukakan 4 dalil yaitu:
Dalil alam kejiwaan
Dalil ini didasarkan pada fenomena gerak dan pengetahuan. Gerak dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
Gerakan Paksaan, gerakan yang timbul pada suatu benda yang disebabkan adanya dorongan dari luar.
Gerakan tidak paksaan, gerakan yang terjadi baik yang sesuai dengan hukum alam maupun yang berlawanan. Gerakan yang sesuai dengan hukum alam seperti batu jatuh dari atas kebawah. Sedangkan yang berlawanan dengan hukum alam seperti seperti manusia berjalan dan burung terbang hal ini terjadi karena adanya penggerak yang disebut dengan jiwa
Konsep “aku” dan kesatuan fenomena psikologis
Dalil oleh Ibnu Sina didasarkan pada hakikat manusia. Jika seseorang membicarakan pribadinya atau mengajak orang lain berbicara, yang dimaksudkan pada hakikatnya adalah jiwanya bukan jisimnya. Begitu juga dalam masalah psikologi terdapat keserasian dan koordinasi yang mengesankan yang menunjukan adanya suatu kekuatan yang menguasai dan mengaturnya. Kekuatan yang menguasai dan mengatur tersebut adalah jiwa.

Dalil Kontinuitas (al-istimrar)
Dalil ini didasarkan pada perbandingan jiwa dan jasad. Jasad manusia senantiasa mengalami perubahan dan pergantian. Kulit yang kita pakai sekarang ini tidak sama dengan kulit yang 10 tahun lewat karena telah mengalami perubahan seperti mengerut dan berkurang. Demikian pula dengan jasad yang lain, selalu mengalami perubahan. Sementara itu, jiwa bersifat kontinu tidak mengalami perubahan dan pergantian. Oleh karena itu, jiwa berbeda dengan jasad.
Dalil manusia terbang atau manusia melayang di udara
Dalil ini menunjukan daya kreasi Ibnu Sina yang sangat mengagumkan. Meskipun dasarnya bersifat asumsi atau khayalan. Namun tidak mengurangi kemampuannya dalam memberikan keyakinan. Penetapan tentang wujud dirinya bukan hal dari indra dan jasmaninya, melainkn dari sumber lain yang berbeda dengan jasad, yakni jiwa.
Hakikat Jiwa
Ibnu Sina mendefinisikan jiwa dengan jauhur rohani. Definisi ini mengisyaratkan bahwa jiwa merupakan substansi rohani, tidak tersusun dari materi-materi sebagaimana jasad. Kesatuan antara keduanya bersifat accident, hancurnya jasad tidak membawa pada hancurnya jiwa (roh). Pendapat ini lebih dekat pada plato yang mengatakan jiwa adalah substansi yang berdiri sendiri.
Hubungan Jiwa dengan jasad
Menurut Ibnu Sina, selain eratnya hubungan antara jiwa dan jasad, keduanya juga saling mempengaruhi atau saling membantu. Jasad adalah tempat bagi jiwa. Dengan kata lain, jiwa tidak akan diciptakan tanpa adanya jasad yang ditempatinya. Jika tidak demikian, tentu akan terjadi adanya jiwa tanpa jasad, atau adanya satu jasad ditempati beberapa jiwa.
Kekelan Jiwa
Ibnu Sina lebih cenderung berkesimpulan sesuai dengan apa yang disinyalkan Al-qur’an. Menurutnya jiwa manusia berbeda dengan tumbuhan dan hewan yang hancur dengan hancurnya jasad. Jiwa manusia akan kekal dalam bentuk individual, yang akan menerima pembalasan di akhirat. Akan tetapi, kekalnya ini dikekalkan Allah. Jadi, jiwa adalah baharu karena diciptakan (punya awal) dan kekal (tidak punya akhir).

Uraian diatas mengisyaratkan bahwa Ibnu Sina menempatkan jiwa pada peringkat yang paling tinggi. Disamping sebagai dasar fikir, jiwa manusia juga mempunyai daya-daya terdapat pada jiwa tumbuhan dan hewan. Penjelasan diatas menunjukan bahwa menurut Ibnu Sina jiwa manusia tidak hancur dengan hancurnya badan.