Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Iklan

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Biografi dan Pemikiran Tokoh Filsafat Islam IBNU SINA

Ibnu Sina adalah Filosof Muslim yang mengembangkan Falsafat Klasik Islam kepuncak tertinggi dan diberi gelar “ pangeran para Dokter”. Nama lengkapnya adalah Abu ‘Ali Al-Husain Ibnu ‘Abd Allah Ibn Hasan Ibnu ‘Ali Ibn Sina. Di Barat populer dengan sebutan “Avicenna” akibat dari terjadinya metamorfose Yahudi-Spanyol-Latin. Dengan lidah Spanyol kata Ibnu diucapkan Aben atau Even. Terjadi perubahan ini berawal dari usaha penerjemahan naskah-naskah Arab kedalam bahasa Latin pada pertengahan abad ke-12 di Spanyol. Ibnu Sina dilahirkan di desa Afshanah, dekat Kharmaitan, kabupaten Balkh, wilayah Afghanistan Propinsi Bukhara- yang sekarang masuk daerah Rusia. Ibnu Sina lahir pada masa kekacauan, dimana Khalifah Abasiah mengalami kemunduran, dan negeri-negeri yang mula-mula dibawah kekuasaan Khilafah tersebut memisahkan diri untuk berdiri sendiri. Sedangkan Baghdad sebagai pusat pemerintahan dan juga merupakan pusat ilmu pengetahuan jatuh ketangan Bani Buwaih (334 H).
Ibnu Sina berdasarkan pengamatan dan penyelidikan para ahli, lahir pada 370 H/ 980 M dan meninggal dunia pada tahun 428 H/1037 M dalam usia 58 tahun. Wafat dan jasadnya dikebumikan di Hamadzan. Ibunya bernama Astarah, sedangkan Ayahnya bernama Abdullah seorang Gubernur dari suatu Distrik di Bukhara pada masa Samaniyyah-Nuh II bin Mansur. Ibnu Sina sejak usia muda selain telah hafal Al-Qur‘an seluruhnya dalam usia 10 tahun, ia dalam usia kurang lebih 17 tahun telah menguasai beberapa disiplin ilmu seperti matematika, logika, fisika, kedokteran, astronomi, hukum, dan lainnya, juga falsafat yang berkembang dimasanya.
Pada usia 17 tahun, dengan kecerdasannya yang sangat mengagumkan, ia sudah tampil sebagai Dokter dan berhasil menyembuhkan penyakit Sultan Bukhara, Nuh Ibn Mansur, dari Dinasti Samaniyyah. Sejak itu ia dapat leluasa memasuki perpustakaan Istana Bukhara, Kutub Hana. Ia juga pernah diangkat menjadi Menteri oleh Sultan Syams Al- Dawlah yang berkuasa di Hamdan dan menjadi penasihat politik di Isfahan, sebagai sebagai pengakuan atas kematangannya dalam ilmu pengetahuan dan falsafat dan atas kepemimpinannya dalam politik ia dikenal dengan gelar “Al-Syaykh Al-ra’is”.
Diantara guru yang mendidiknya ialah Abu ‘Abd Allah Al-Natili dan Isma’il sang Zahid.[8] Karena kecerdasan otaknya yang luar biasa, ia dapat menguasai semua ilmu yang diajarkan kepadanya dengan sempurna, bahkan melebihi sang guru. Kemampuan Ibnu Sina dalam bidang Filsafat dan kedokteran, keduanya sama beratnya. Dalam bidang kedokteran ia mempersembahkan Al-Qanun fit-Thibb-nya, dimana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran, sebab kitab ini selain lengap, disusunnya secara sistematis. Dalam bidang materia medeica, Ibnu Sina telah banyak menemukan bahan nabati baru Zanthoxyllum budrunga– dimana tumbuh-tumbuhanini banyak membantu terhadap beberapa penyakit tertentu seperti radang selaput otak (miningitis).
Ibnu Sina pula sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana 600 tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia pulalah yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya. Dia jugalah yang mula-mula mempraktekan pembedahan penyakit-penyakit bengkak yang ganas , dan menjahitnya. Dan last but not list dia juga terkenal sebagai dokter jiwa.
Karya Tulis yang dihasilkan Ibnu Sina cukup banyak. Kebanyakan penulis menegaskan bahwa jumlahnya tidak kurang dari 276 buah, dalam buku dan risalah, dan dalam bentuk karangan ilmiah biasa (prosa) atau dalam bentuk syair. Karya-karya ini sebagian besar berbahasa Arab, tapi sebagian kecil dalam bahasa Persia. Diantara karangan-karangan ibnu Sina adalah:
Kitab Al-Syifa’ (The book of Recovery or the book of Remedy)
Merupakan buku tentang penemuan, atau buku tentang Penyembuhan. Buku ini dikenal didalam bahasa latin dengan nama Sanatio atau Sufficienta. Terdiri dari 18 jilid. Naskah selengkapnya sekarang ini tersimpan di Oxford University London. Mulai ditulis pada usia 22 tahun (1022 M), dan berakhir pada tahun wafatnya (1037 M). Isinya terbagi atas 4 bagian, yaitu Ketuhanan, Fisika, Matematika dan Logika.
Kitab Al- Najat
Merupakan ringkasan dari Kitab Al-Syifa’ , tapi yang dibicarakan didalamnya hanya logika, Fisika, dan Metafisika (ketuhanan).
Kitab Al-Qanun fi al-Thibb
Berisikan ilmu kedokteran. Menjadi pegangan wajib di Universitas Eropa sampai XVII M.
Kitab Al-Isyarat wa al-Tanbihat
Terdiri dari 3 jilid, yang berisikan uraian tentang logika dan hikmah. Merupakan karya terakhir yang dihasilkan Ibnu Sina.
Filsafat
Al- Tawfiq ( Rekonsiliasi) antara Agama dan Filsafat
Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga mengusahakan pemaduan antara Agama dan Filsafat. Menurut nabi dan Filosof menerima kebenaran dari sumber yang sama, yakni Malaikat Jibril yang juga disebut Akal kesepuluh atau aktif. Perbedaannya hanya terletak pada cara memperolehnya, bagi nabi terjadinya hubungan dengan Malikat Jibril melalui akal materiil yang disebut hads (kekuatan suci, qudsiyyat), sedangkan filsofot melalui akal Mustafad. Nabi memperoleh akal materil yang dayanya jauh lebih kuat daripada akal Mustafad sebagai anugrah Tuhan kepada orang pilihan-Nya. Sementara itu, filosof memperoleh Akal mustafad yang dayanya jauh lebih rendah dari pada akal materil melalui latihan berat. Pengetahuan yang diperoleh Nabi disebut Wahyu, berlainan dengan pengetahuan yang diperoleh filosof hanya dalam bentuk Ilham, tetapi antara keduanya tidaklah bertentangan.
Ibnu Sina, sebagaimana Farabi, juga memberikan ketegasan tentang perbedaan antara para Nabi dan para Filosof. Mereka yang disebut pertama, menurutnya adalah manusia pilihan Allah dan tidak ada peluang bagi manusia lain untuk mengusahakannya dirinya jadi nabi. Sementara itu, mereka yang disebut kedua adalah manusia yang mempunyai intelektual yang tinggi dan tidak bisa menjadi Nabi.
Dalam pandangan Ibnu Sina, para Nabi sangat diperlukan bagi kemaslahatan manusia dan alam semesta. Hal ini disebabkan para Nabi dengan para mukjizatnya dapat dibenarkan dan diikuti manusia. Demikianlah uraian Ibnu Sina dan dengan demikian ia bukan saja mengakui adanya Nabi/Rasul dan Kenabian/Kerasulan, melainkan juga menegaskan bahwa Nabi/Rasul lebih unggul dari filosof.
Ketuhanan
Ibnu Sina membuktikan adanya Tuhan (Isbat Wujud Allah) dengan dalil wajib al-wujud dan mumkin al-wujud mengesankan duplikat Al-Farabi. Dalam Filsafat wujudnya, bahwa segala yang ada ia bagi pada tingkatan dipandang memiliki daya kreasi tersendiri sebagai berikut :
Wajib Al–Wujud, esensi yang tidak dapat tidak mesti mempunyai wujud. Esensi yang tidak bisa dipisahkan dari wujud, keduanya adalah sama dan satu. Esensi ini tidak dimulai dari tidak ada kemudian berwujud, tetapi ia wajib dan mesti berwujud selama-lamanya. Jauh Ibnu Sina membagi wajib al-wujud kedalam wajib al-wujud bi dzatihi dan wajib al-wujud bi ghairihi. Kategori yang pertama ialah yang wujudnya dengan sebab zatnya semata, mustahil jika diandaikan tidak ada. Kategori yang kedua ialah wujudnya yang terkait dengan sebab adanya sesuatu yang kain diluar zatnya. Dalam hal ini Allah termasuk pada apa yang pertama (wajib al-wujud li dzatihi la li syai’in akhar).
Mumkin al-wujud, Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak berwujud. Dengan istilah lain, jika ia diandaikan tidak atau diandaikan ada, maka tidaklah mustahil, yakni boleh ada dan boleh tidak ada. Mumkin al-wujud dapat pula dilihat dari sisi lainnya, karena dirinya sendiri, tidaklah lain dari segenap alam yang diciptakan Tuhan.
Mumtani’ al-wujud, Esensi yang tidak dapat mempunyai wujud seperti adanya sekarang ini juga kosmon lain disamping kosmos yang ada.
Sebagaimana Farabi, Ibnu Sina juga berpendapat bahwa ilmu Allah hanya mengetahui yang universal (kully) di alam dan ia tidak mengetahui yang parsial. Ungkapan terakhir ini dimakudkan Ibnu Sina bahwa Allah mengetahui yang parsial ini secara tidak langsung, yakni melaui zatnya sebagai sebab adanya alam.Dari pendapat Ibnu Sina berusaha mengesakan Allah semutlak-mutlaknya dan ia juga memelihara kesempurnaan Allah. Jika tidak demikian, tentu ilmu Allah yang maha sempurna akan sama dengan sifat ilmu manusia, bertambahnya ilmu membawa perubahan pada esensi manusia.
Emanasi (pancaran)
Teori emanasi Ibnu Sina hampir tidak berbeda sama sekali dengan teori emanasi yang dikemukaan oleh Farabi.
Adapun proses terjadinya pancaran tersebut ialah ketika Allah wujud (bukkan dari tiada) sebagai akal (‘aql) langsung memikirkan (berta’aqqul) terhadap zat-Nya yang menjadi objek pemikiran-Nya, maka memancarlah akal pertama. Dari akal pertama ini memancarlah akal kedua, jiwa pertama dan langit pertama. Demikianlah seterusnya sampai akal sepuluh yang sudah lemah dayanya dan tidak dapat menghasilkan akal sejenisnya, dan hanya menghasilkan jiwa kesepuluh, bumi, roh, materi pertama yang menjadi dasar bagi keempat unsur pokok : air, udara, api, dan tanah.
Sejalan dengan Filsafat emanasi, alam ini kadim karena diciptakan oleh Allah sejak Qidam dan Azali. Akan tetapi, tentu saja Ibnu Sina membedakan antara kadimnya Allah dan alam. Perbedaan yang mendasar terletak pada sebab membuat alam terwujud. Keberadaan alam tidak tidak didahului oleh zaman, maka alam kadim dari segi zaman (taqaddum zamany). Adapun dari segi esensi, sebagai hasil ciptaan Allah secara pencaran, alam ini baharu (hudus zaty). Sementara itu Allah adalah taqaddum zaty, ia sebab semua yang ada dan ia adalah pencipta alam. Jadi, alam ini baharu dan qadim. Baharu dari segi esensi, dan qadim dari segi zaman.

Jiwa
Kata jiwa dalam Al-qur’an dan Hadis diistilahkan dengan al-nafs (jiwa) atau al-ruh (imateri) yang berada dalam tubuh. Secara garis besar pembahasan Ibnu Sina tentang jiwa terbagi menjadi 2 bagian namun Fisika, membicarkan tentang jiwa tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.
Jiwa Tumbuh-tumbuhan, mempunyai 3 daya yaitu makan, tumbuh, dan berkembang biak. Jadi, jiwa pada tumbuhan hanya berfungsi untuk makan, tumbuh dan berkembang biak.
Jiwa Binatang mempunyai 2 daya yaitu gerak dan menangkap. Daya yang terakhir ini menjadi 2 bagian:
Menangkap dari luar dengan pancaindra
Menangkap dari dalam dengan indra-indra batin
Dengan demikian jiwa binatang lebih tinggi fungsinya daripada jiwa tumbuh-tumbuhan, bukan hanya sekedar makan, tumbuh dan berkembang biak, tetapi telah dapat bekerja dan bertindak serta telah merasakan sakit dan senang seperti manusia.
Jiwa Manusia, yang disebut juga al-nafs al-nathiqat, mempunyai 2 daya yaitu Praktis dan teoritis. Daya praktis hubungannya dengan jasad, sedangkan daya teoretis hubungannya dengan hal-hal yang abstrak. Daya teoretis ini mempunyai 4 tingkatan yaitu:
Akal materiil (al-‘aql al-hayulany) yang semata-mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikit.
Akal malakat (al-‘aql bi al-malakat) yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal-hal yang abstrak.
Akal aktual (al-‘aql bi al-fi’l) yang telah dapat berfikir tentang hal-hal abstrak.
Akal Mustafad (al-‘aql al-mustafad) yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal-hal abstraktanpa perlu daya upaya. Akal seperti inilah yang dapat berhubungan dan menerima limpahan ilmu pengetahuan dari akal aktif.

Metafisika, membicarakan tentang hal-hal sebagai berikut:
Wujud jiwa
Dalam membuktikan adanya jiwa, Ibnu Sina mengemukakan 4 dalil yaitu:
Dalil alam kejiwaan
Dalil ini didasarkan pada fenomena gerak dan pengetahuan. Gerak dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
Gerakan Paksaan, gerakan yang timbul pada suatu benda yang disebabkan adanya dorongan dari luar.
Gerakan tidak paksaan, gerakan yang terjadi baik yang sesuai dengan hukum alam maupun yang berlawanan. Gerakan yang sesuai dengan hukum alam seperti batu jatuh dari atas kebawah. Sedangkan yang berlawanan dengan hukum alam seperti seperti manusia berjalan dan burung terbang hal ini terjadi karena adanya penggerak yang disebut dengan jiwa
Konsep “aku” dan kesatuan fenomena psikologis
Dalil oleh Ibnu Sina didasarkan pada hakikat manusia. Jika seseorang membicarakan pribadinya atau mengajak orang lain berbicara, yang dimaksudkan pada hakikatnya adalah jiwanya bukan jisimnya. Begitu juga dalam masalah psikologi terdapat keserasian dan koordinasi yang mengesankan yang menunjukan adanya suatu kekuatan yang menguasai dan mengaturnya. Kekuatan yang menguasai dan mengatur tersebut adalah jiwa.

Dalil Kontinuitas (al-istimrar)
Dalil ini didasarkan pada perbandingan jiwa dan jasad. Jasad manusia senantiasa mengalami perubahan dan pergantian. Kulit yang kita pakai sekarang ini tidak sama dengan kulit yang 10 tahun lewat karena telah mengalami perubahan seperti mengerut dan berkurang. Demikian pula dengan jasad yang lain, selalu mengalami perubahan. Sementara itu, jiwa bersifat kontinu tidak mengalami perubahan dan pergantian. Oleh karena itu, jiwa berbeda dengan jasad.
Dalil manusia terbang atau manusia melayang di udara
Dalil ini menunjukan daya kreasi Ibnu Sina yang sangat mengagumkan. Meskipun dasarnya bersifat asumsi atau khayalan. Namun tidak mengurangi kemampuannya dalam memberikan keyakinan. Penetapan tentang wujud dirinya bukan hal dari indra dan jasmaninya, melainkn dari sumber lain yang berbeda dengan jasad, yakni jiwa.
Hakikat Jiwa
Ibnu Sina mendefinisikan jiwa dengan jauhur rohani. Definisi ini mengisyaratkan bahwa jiwa merupakan substansi rohani, tidak tersusun dari materi-materi sebagaimana jasad. Kesatuan antara keduanya bersifat accident, hancurnya jasad tidak membawa pada hancurnya jiwa (roh). Pendapat ini lebih dekat pada plato yang mengatakan jiwa adalah substansi yang berdiri sendiri.
Hubungan Jiwa dengan jasad
Menurut Ibnu Sina, selain eratnya hubungan antara jiwa dan jasad, keduanya juga saling mempengaruhi atau saling membantu. Jasad adalah tempat bagi jiwa. Dengan kata lain, jiwa tidak akan diciptakan tanpa adanya jasad yang ditempatinya. Jika tidak demikian, tentu akan terjadi adanya jiwa tanpa jasad, atau adanya satu jasad ditempati beberapa jiwa.
Kekelan Jiwa
Ibnu Sina lebih cenderung berkesimpulan sesuai dengan apa yang disinyalkan Al-qur’an. Menurutnya jiwa manusia berbeda dengan tumbuhan dan hewan yang hancur dengan hancurnya jasad. Jiwa manusia akan kekal dalam bentuk individual, yang akan menerima pembalasan di akhirat. Akan tetapi, kekalnya ini dikekalkan Allah. Jadi, jiwa adalah baharu karena diciptakan (punya awal) dan kekal (tidak punya akhir).

Uraian diatas mengisyaratkan bahwa Ibnu Sina menempatkan jiwa pada peringkat yang paling tinggi. Disamping sebagai dasar fikir, jiwa manusia juga mempunyai daya-daya terdapat pada jiwa tumbuhan dan hewan. Penjelasan diatas menunjukan bahwa menurut Ibnu Sina jiwa manusia tidak hancur dengan hancurnya badan.

Akal dalam perspektif Al Qur’an

Assalamualaikum wr wb Segala puji bagi Allah ‘Azza wa Jalla, yang telah menganugerahkan kepada umat manusia hati nurani, yang dengannya mereka menjadi berakal, mampu berfikir, merenung, dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Shalawat dan salam, semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang teladan yang telah mendorong umatnya, untuk terus meningkatkan kemampuan akalnya dalam memahami agama Kaum muslimin rahimakumullah, Akal merupakan karunia agung yang diberikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada manusia. Ia (akal) adalah pembeda antara manusia dengan hewan, dengannya mereka dapat terus berinovasi dan membangun peradaban, dan dengannya mereka dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya sesuai jangkauan akal mereka. Karena besarnya karunia akal ini, Islam menggariskan banyak syariat untuk menjaga dan mengembangkannya, seperti: Mengharamkan apapun yang dapat menghilangkan akal, baik makanan, minuman, ataupun tindakan. Juga memberikan hukuman khusus berupa cambuk, bagi mereka yang sengaja makan atau minum apapun yang memabukkan. Semua hal di atas digariskan oleh Islam, terutama untuk menjaga nikmat akal, mensyukurinya, dan mengembangkannya. Bahkan dalam Alquran, sangat banyak kita dapati ayat-ayat yang mendorong manusia agar memanfaatkan akalnya untuk hal-hal yang berguna, terutama untuk mencari hakikat kebenaran. Berikut ini, merupakan sebagian kecil dari contoh ayat-ayat tersebut: “Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dia pula yang mengatur pergantian malam dan siang. Tidakkah kalian menalarnya?!” (QS. Al-Mukminun: 80). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Akal merupakan syarat dalam mempelajari semua ilmu. Ia juga syarat untuk menjadikan semua amalan itu baik dan sempurna, dan dengannya ilmu dan amal menjadi lengkap. Namun (untuk mencapai itu semua), akal bukanlah sesuatu yang dapat berdiri sendiri, tapi akal merupakan kemampuan dan kekuatan dalam diri seseorang, sebagaimana kemampuan melihat yang ada pada mata. Maka apabila akal itu terhubung dengan cahaya iman dan Alquran, maka itu ibarat cahaya mata yang terhubung dengan cahaya matahari atau api”. pada kesimpulannya, bahwa akal merupakan nikmat yang sangat agung, namun ia bukanlah segalanya. Kita harus menempatkannya pada tempat yang layak, dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang tidak bisa dijangkau olehnya. Mudah-mudahan bermanfaat, terutama bagi penulis sendiri, dan umumnya bagi para jamaah sekalian. Wassalamualaikum wr wb.

Malam sepi ku

Sampai kapan sepi ini menyelimuti ku ??.. kehangatan mu sllu ku rasakan .. dimanakah “dia”???…
  iya “dia” dia yang mampu menyejukkan suasana hati .. dia yang mampu menghapus butiran mutiara kecil yg terjatuh .. 

Akuu tanpanya .. bagaikan ranting pohon yang terkena ribuan tetesan hujan, Takan mampu berteduh jika tidak ada satupun yang mengambil ku .. 😃🙋

Al Ghazali The Alchemist of Happiness 

ssalamualaikum Wr Wb 

Hay kawan berjumpa lagi dengan saya ..

Bagaimana kabar kawan-kawan?? .. semoga kita selalu dalam lindungan Allah dan ditambahkan keimanannya. Aamiin

Kawan saya ingin sedikit bercerita sebelum saya menguraikan resensi saya mengenai film The Alchemist of Happiness. Jadi waktu itu di hari kamis yang biasa y saya dan teman teman masuk kuliyah di mata kuliyah pertama jam 9 yaitu Filsafat Islam, saya dan teman teman menunggu dosen di depan kelas yaitu di lorong gedung Fuda (Fakultas Ushuluddin Dakwah dan Adab) kami menunggu kurang lebih stengah jam, dan biasanya mata kuliah Filsafat Islam itu kelasnya di Lab BKI dan  dosen Filsafat Islam itu Kaju BKI maka kita memutuskan untuk naik ke Lab BKI .. kira kira  satu jam lebih saya dan teman teman menunggu tapi tidak ada jawaban dari chat kami dari dosen 😔  saya dan teman teman mulai bosan dan kami memilih pulang ke kosan istirahat, dan kami menadapatkan kabar masuk jam 2 mata kuliyah Filsafat Islam. Lagi lagi kami menunggu kemudian dosen belum juga masuk dan ternyata dosen tidak bisa masuk dan dosen memberikan tugas untuk menonton  film The Alchemist of Happiness. Setelah menonton film maka kami di suruh membuat Resensi film menceritakan rangkuman isi film dan gagasan/kesan yang terdapat dalam film tersebut. 

Maka saya akan menguraikan resensi saya untuk memenuhi tugas Filsafat Islam yaitu: 

Film The Alchemist of Happiness

Data / Identitas Film :

Judul Film : Al-Ghazzali Kimia Kebahagiaan / The Alchemist of Happiness

Pemeran :Ghorban Nadjafi sebagai Abu Hamid Muhammad, Al-Ghazali Robert Powell sebagai Pengisi Suara Al-Ghazali, Dariush Arjmand sebagai Nizam al-Mulk, Mitra Hajjar sebagai istri Ghazali, Abol Reza Kermani sebagai Ahmad Ghazali, Muhammad Poorsattar sebaga Sufi Guardian, Ali Mayani sebaga Magician.

Film yang berdurasi  01:19:11 dan Film ini berkisah tentang perjalanan Al-Ghazali mengabdikan hidupnya untuk menyelidiki rahasia keperiadaan dengan mengatasi keraguan falsafinya  serta mencapai pencerahan spiritual.  Karena puncak di dalam diri manusia tidak cukup aktualisasi diri yang didominasi nafsu duniawi melainkan kesadaran diri mengenai Tuhan, keberadaan Tuhan dalam diri, spiritualitas. Ghazali diceritakan melalui beberapa sudut pandang, dari tokoh utamanya langsung, dari beberapa pakar dan dari seseorang yang ingin memahami jejak Ghazali. Di awal cerita terdapat seseorang yang ingin memahami jejak Ghazali, tidak disebutkan siapa namanya. Ia berkunjung di sebuah kota bernama Thus, tepatnya di tempat pemakaman Ghazali yang juga sering disebut penjara Harun. Ia didampinngi oleh Mohammad Yahagi, Lecturer, Persian Literature Mashad University yang menjelaskan bahwa yang selama ini disebut pusaran Ghazali hanyalah tugu pusaran saja,  karena pemakaman Ghazali masih misterius adanya. Thus, Khurasan di Timur laut Iran, tempat Ghazali dilahirkan yaitu tahun 1058. Kota ini dahulu menjadi pusat budaya Islam yang besar dan luas, banyak ulama lahir di sana termasuk Ghazali. Pada masa  Ghazali merupakan masa peradaban terhebat yang pernah ada, terbesar, paling makmur, dan secara intelektual maupun arsitektural terproduktif. Pada film, dijelaskan oleh T.J. Winter, Lecturer, Islamic Studies Cambridge University  bahwa Khurasan diperkirakan tempat paling produktif di wilayah tengah Islam, saat itu. Sekarang letak kota itu diperkirakan di daerah  Asia Tengah. Ada kota besar, universitas besar di sana, dan pusat studi hukum Islam (fiqh).  Prinsip  awal tashawuf dijabarkan  di Khurasan, dijadikan metode agar setiap Muslim bisa kembali ke spiritualitas asli di inti keimanan. Jadi, saat itu Khurasan memang jantung intelektualitas Islam dan gegap gempita kehidupan Muslim periode itu. Pasukan Mongol meratakan kota-kota besar Khurasan dan memendam dalam-dalam, menghilangkan dan menghapus hampir semua jejak pusat studi dan budayanya. 

Film ini mulai menjelaskan siapa Al-Ghazali melalui  T.J. Winter, Lecturer, Islamic Studies Cambridge University  di awal film. Ia menjelaskan bahwa Al-Ghazali umumnya dipandang sebagai satu dari 5 atau 6 pemikir paling berpengaruh dalam sejarah kemanusiaan. Pengaruh tersebut hidup hingga kini, beliau memperlihatkan bahwa jantung keimanan dan setiap amalan Islam ada makna spiritual dan proses tobat, perbaikan dan hijrah. Itulah sebabnya beliau disebut “Bukti Islam” (Hujjatul-Islam).

Kimia Kebahagiaan adalah salah satu buku yang ditulis oleh Al-Ghazali dan inilah versi filmnya. Di dalam film ini digambarkan bagaimana beliau memaparkan  makna batiniah ritual Islam dan metode menuju pencerahannya. Sesi demi sesi film ini cukup membuka pikiran dan pandangan penonton. Selain bahasanya yang membutuhkan penafsiran dan analisis pikiran, terkandung filosofi makna-makna yang baik untuk dipahami. Tepat sekali untuk kamu yang ingin mendalami dasar dan tujuan kehidupan seorang manusia  di bumi ini. Kepastian, yang dalam film ini harus ditemukan terlebih dahulu dasarnya. Kodrat manusia dan keadaan dasarnya adalah kehampaan dan ketidaktahuan akan dunia gaib Tuhan. Manusia mendapatkan pengetahuan melalui organ duniawi yang setiap dari organ tersebut dianugerahkan kepada kita semua untuk memahami dunia makhluk. Ialah indra perabaan yang membantu kita merasakan kenyataan mengenai panas dan dingin, indra penglihatan, indra pendengaran, indra pengecap dan indra pembau. Lalu, berkembang menjadi lebih kompleks dari sekedar indrawi, manusia diberi nalar, untuk memahami hal-hal abstrak, mana yang logis dan tidak logis, mana yang mungkin dan mana yang mustahil, hingga kepada hal di luar jangkauan nalar, ghaib. Ghazali dan adiknya ditinggal wafat oleh ayahnya , Shufi, saat masih kecil. Sekitar usia tujuh tahun. Selama ditinggal wafat, mereka dititipkan kepada teman terpercaya ayahnya, seorang wali shufi, seorang “Faqir”. Menariknya, di bagian ilustrasi ketika ayahnya wafat dan menyampaikan wasiatnya kepada guru, teman terpercaya untuk merawat ghazali dan adiknya, dipaparkan bahwa seorang guru itu lebih penting daripada seorang ayah biologis seseorang. Pada hal tersebut Ghazali ingin menekankan gagasan “keabadian Ilahiah”, tentang yang pasti datang, apa yang fana, dan apa yang abadi. Pada perjalanan abadi, seseorang membutuhkan guru untuk menuntun perjalanan melintasi dunia. Sedang ayah memberimu kehidupan untuk perjalanan duniawi, ia tak memberimu sarana untuk melintasi dunia ini. Manusia membutuhkan guru untuk memperdalam pengetahuan. Di bagian ini, kita disadarkan bahwa pengetahuan tidak semata di dapatkan secara cuma-cuma, seperti searching di google, setelah ketemu selesai, tidak. Namun, kedalamannya ada pada dasar pengetahuan itu, tak banyak yang mengetahui, maka harus datang ke seorang atau sebuah sumber untuk mendapat kebenarannya. Ghazali dikenal sebagai anak ajaib, beliau hafal teks standar di usia dini, dan menghabiskan seluruh peluang intelektual di kotanya, di awal remaja. Beliau menimba ilmu ke kota propinsi tetangga, Nisyapur di kelas Al-Juwaini. Sejak kecil ia haus akan ilmu, akan pemahaman mengenai kebenaran sesungguhnya segala hal. Selain itu, beliau juga memliki selera tak terpuaskan akan pengetahuan. Pengetahuan diserapnya berbasis konsep Islam “Tauhiid” melalui kerangka berpikir. Mencerna mengenai keesaan puncak Tuhan, dan bagaimana keesaan itu mewujud melalui keragaman di dunia, berbicara tentang hasrat mencapai akar dari masalah. Beliau menguasai, hafal, menghayati dan mengajarkan hal-hal tersebut di usia dini. Beliau menyaksikan beberapa hal seperti otoritas agama langsung dari kehidupan, kejadian yang sesungguhnya, seperti ia menyaksikan sendiri anak-anak Kristen selalu dibesarkan menjadi orang Kristen, anak-anak Yahudi menjadi Yahudi, dan Anak-anak muslim menjadi muslim. Ia juga mengaitkannya kepada hadist Rasulullah SAW. Ghazali mengamati bahwa beberapa faktor luar dari diri manusia membentuk berbagai pengamalan wahyu dan pengalaman beragama, yang pada intinya adalah keperiadaan Ilahiah. Ghazali menyoal tentang sifat alamiah manusia, fithrah, merujuk hadist Rasulullah SAW.  Cinta Tuhan dan Ibadah kepada Tuhan, untuk itulah manusia diciptakan. Ibadah tertinggi adalah mengenal Tuhan. Keterkaitannya dengan fiitrah adalah, jika beribadah mengabdi kepada Tuhan bagi umat manusia berarti mengenal Tuhan, maka itu meniscayakan tak lain Tuhan mengaruniai manusia fitrah agar ia bisa mengenal Dia. Secara alamiah adalah pengenalan atas Yang Dikenal dan yang mengenali. Pengenalan Tuhan dan seorang hamba yang mengenalinya dengan segenap kesadaran. Tujuan diciptakan manusia sejak waktu diciptakan. Banyak pandangan-pandangan Ghazali terkait keperiadaan manuasia, realitas puncak telah dipaparkan secara mendetail, dari fitrah manusia, tujuan ia diciptakan, hingga terus naik kepada realitas puncaknya yaitu kesadaran spiritual. Menceritakan pula sisi tragis keperiadaan manusia salah satunya ialah saat manusia mengesampinngkan Tuhan dari pencarian diri, hingga menuhankan hal lain sebagai gantinya. Sifat alamiah manusia yang akan mencari ganti untuk mengisi ruang kosong dalam dirinya.

Ada pesan moral di film ini yakni manusia harus dapat mendamaikan iman dan nalar agar tidak mengamalkan agama secara buta di dunia ini. Ada banyak hal yang menyalahartikan agama dengan argumen-argumennya, membuat fungsi agama menjadi memuakkan dan hal keduniawian yang sifatnnya fana menjadi begitu menggiurkan. Oleh karenanya, kita perlu pengetahuan yang lebih untuk menjinakkan hal-hal nalar yang berpotensi mengesampingkan iman, tak sadar lagi akan yang gaib, agar Tuhan tetap menjadi fokus utama di hati dan hidup kita. Ghazali berkelana untuk belajar kepada ahli kalam terkemuka di masanya. Sebagian pelajaran yang diperolehnya melalui cara yang tak terduga. Ada aral, rintangan dalam perjalanan Ghazali. Dalam sebuah perjalanan bersama rekannya, terjadi sebuah perampokan yang berdampak besar pada Ghazali, segala ilmu yang dikumpulkan dari guru-gurunya selama dua tahun lenyap dirampas oleh para perampok. Beliau berkata bahwa apa yang dibawanya tidak berharga bagi perampok itu, dibalas oleh si perampok dengan perkataan, “Jadi aku cukup merampasnya darimu untuk menghapus pengetahuanmu.” Terngiang perkataan tersebut dalam benak Ghazali, dalam hatinya berkata bahwa perampok itu benar. Pengalaman tersebut memberi pelajaran kepadanya, ia menekadkan demi Tuhan dan pengetahuan yang didapatkan dari pencegatan masa depan. Beliau menghapalkan catatan yang telah diperoleh selama tiga tahun. Hal tersebut kemudian patut untuk kita ambil maknanya pula. Bahwasannya apa yang terlihat di mata kita dapat hilang kapan saja, namun kita bisa tetap menggenggamnya walaupun hilang dengan cara memahami, menghayati dan menghapalnya. Sesi ini cukup dapat membuka pikiran penonton mengenai hakikat menghapal yang bukan semata-mata untuk mengejar nilai bagi seorang murid untuk mendapatkan nilai, namun untuk bekal, simpanan yang akan tetap abadi jika sewaktu-waktu dia akan hilang, atau meniatkannya agar tetap tersimpan lama bukan asal-asalan menghapal. Akan tetap dimanfaatkan di hidup kita, diajarkan kepada orang lain, dan menjadi pengetahuan yang hidup sepanjang masa. Seiring berjalannya waktu, Ghazali semakin dikenal kelihaiannya. Ia mencapai puncak aktualisasi diri dengan baik. Kekayaan, status, kemapanan, kepopuleran telah ia pegang. Namun, di suatu waktu timbul kekahwatiran pada dirinya, ia seakan ingin menjadi apa adanya dan menyadari betapa palsu dirinya. Ternyata apa yang telah teraktualisasikan tidak cukup menjawab tentang siapa diri beliau yang sebenarnya. Kepribadian bersembunyi di balik sesuatu. Beliau sedang menyadari akan hal itu, menyadari topeng yang ia tebar di dunia sebagai si jenius, si anak ajaib, dan pendebat cemerlang. Dalam dakwah yang ia sampaikan di masjid-masjid, ada seorang pemakna kehidupan Illahi, menjadi pemicu transformasi beliau, ia berkata, “Wahai batu asah, sampai kapan kau menajamkan besi, tapi kau sendiri tak kunjung tajam?”. Darinyalah beliau akhirnya menyadari bahwa pengetahuan intelektual ini ternyata kejahilan yang sangat samar. Beliau benar-benar berada pada titik sadar,  “Aku fana, aku akan mati. Sudahkah kupersiapkan perjalanan ini?” Krisis keperiadaan, satu-satunya krisis yang bermakna bagi manusia. Keadaan manusia yang semuanya fana. Krisis ini dimulai dengan krisis mental, intelektual, dan bertahap pada realitas psikologis serta psikosom.

Kesan dan pesan saya setelah menonton film ini yaah meskipun saya harus menontonnya berulang kali tapi alhamdulillah saya bisa belajar bahwa kita hidup di dunia tidaklah akan selamanya  dan jangan sampai kita tertipu oleh dunia yang fana. 

Semoga dengan resensi ini kita semua bisa termotivasi dan giat untuk mencari rido Allah swt. Apabila ada salah kata mohon untuk di maafkan.

Wassalamualaikum Wr Wb

Awal mula mengenal filsafat

Assalamualaikum Wr.Wb 

Segala puji bagi Allah yang telah mencurahkan nikmat iman wal islam semoga kita selalu dalam lindunganNya. Amiin.

Hay kawan kawan .. saya akan bercerita pertama kali saya mengenal filsafat untuk memenuhi tugas filsafata islam. Sebelumnya perkenalkan nama saya Khofifah saya Mahasiswa dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Dan sekarang saya semester lll di jurusan PMI. Eeett… awas jangan salah arti. Apa siih kepanjangan PMI?? Yaaah .. inilah kepanjangan dari PMI : Pengembangan Masyarakat Islam berada dalam fakultas Ushuluddin. 

Pertama kali saya mengenal filsafat yaitu ketika sudah di perguruan tinggi yaitu di UIN SMH Banten. Diawal semester saya belum mengenal mata kuliyah filsafat, yang ada hanya Fiqih, Akidah, QQWT dll dan tidak ada mata kuliyah yang aneh-aneh. Selesai di semester satu kemudian saya melanjutkan ke semester dua. 

Naaah .. disemester dua ini saya mulai menemukan mata kuliyah yang mulai dari nama mata kuliyahnya saja saya tidak faham seperti psikolog, filsafat umum dll. Di semester dua saya pertamakali mengenal filsafat yang di bimbing oleh dosen bantenologi yaitu bapak Dr Helmy Faizi Bahrul Ulumi M.Hum. Dan filsafat adalah bidang keahlian beliau, beliau seorang peneliti yang sangat amat mendalam jadi jangan di ragukan lagi. Dan saya beruntung mempunyai dosen seperti beliau. Karena, sesuai dengan jurusan saya yaitu prngembangan masyarakat islam yang pastinya saya akan merasakan bagaimana penelitian, saya sungguh takjub dengan beliau.

Akan tetapi saya merasa sedih, enatah kenapa ketika beliau sedang menjelaskan tentang filsafat saya tidak bisa menangkap apa yang sudah dijelaskan oleh dosen meskipun saya berusaha paham tapi saya tidak bisa mencerna penjelasan yang sudah dipaparkan oleh dosen. entah saya terlalu bodoh ataupun saya tidak menyimaknya dengan baik. Setelah jam mata kuliyah filsafat selesai dengan rasa penasaran saya tanyakan kepada teman-teman. Apa kalian mengerti dengan mata kuliyah filsafat umum yang sudah dijelaskan dengan dosen? 

Waaah .. tentu saya sangat terkejut dengan jawaban mereka. Karna apa?? Karna jawaban merekapun sama “Saya tidak mengerti apa yang sudah dijelaskan oleh dosen”. Namun saya mempunyai alasan kenapa saya tidak bisa memahami materi filsafat yang sudah dipaparkan oleh dosen. Alasan yang pertama  ketika dosen menyampaikan materi bahasanya terlalu tinggi sehingga saya tidak bisa memahami dengan mudah materi yang sudah disampaikan. Kedua, pembahsannya Abstrak tidak mudah untuk dipahami. Dan ada pembelajaran yang saya kurang suka ketika belajar filsafat, yaitu mencari keberadaan tuhan, seperti apa bentuk tuhan, apa itu Tuhan, dan mencari tahu yang tidak ada. Sewaktu itu saya mulai menilai mata kuliyah filsafat itu negatif. Yaaahh.. bagaimana tidak? Itu berkaitan dengan keimanan kita dan saya mulai merasa takut dan mulai tidak menyukai mata kuliyah filsafat. Soo.. dibangku sekolah jika kita tidak menyukai mata pelajaran otomatis kita akan bolos atau izin. Bener kan gyus !! Hehee.

Tapii .. tidak di bangku kuliyah, meskipun saya kurang menyukai mata kuliyah filsafat akan tetapi saya akan tetap mengikuti jam mata kuliyah filsafat, karena ibu saya pernah berpesan “nak ketika kamu sedang mencari ilmu maka ambilah ilmu itu walaupun sedikit” jadi saya fikir semua ilmu itu penting jadi suka tidak suka maka kita harus mempelajarinya untuk menambah pengetahuan maka saya terus berjuang dan tetap mengikuti jam mata kuliyah filsafat meskipun hanya sedikit ilmu yang saya dapatkan hehe … dan semoga bermanfaat, Aamiin.

Selain menjalankan aktifitas menjadi mahasiswa saya pun menjalani kegiatan pondok pesantren .. Alhamdulillah orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk tinggal di kos-kosan dan alhamdulillahnya saya mendapatkan lebih banyak teman di pondok pesantren. Bertepatan tanggal 07 agustus 2017 diadakannya kegiatan pondok namanya MTSB yaitu Masa Ta’aruf Santri Baru yang sebenarnya saya sudah satu tahun di pondok pesantren itu namun ketika saya pertama masuk pondok pesantren saya tidak mengikuti kegiatan MTSB karna saya tidak tahu bahwa diharuskan setiap santri mengikuti kegitan ini maka saya harus ikut serta dengan santri-santri yang baru Kebetulan disamping saya orangnya ramah dan dia juga kuliyah di UIN SMH Banten namanya Irma di situ dia mulai bertanya kepada saya dan saya pun taksegan untuk kembali bertanya. Walaupun sebenarnya irma juga satu tahun di pondok pesantren akan tetapi kami tidak saling mengenal, karna faktor tidak sekamar dan kebanyakan santri dll jadi kami baru mulai mengenal kemudian saya bertanya fakultas dan jurusan kepadanya, “kita sefakultas” .. jawabnya “Ooh yahh??” Ujar saya. Dan yang bikin saya kaget dengan jawaban dia adalah jurusan !! Dia mengambil jurusan filsafat agama. Waah.. saya benar-benar terkejut dengan jawaban dia. Kemudian ia tersenyum dan mulai bercerita bahwa jurusan yang ia ambil itu bukan pilihannya akan tetapi jurusan itu dipilih karna saran kakanya, dan ia menceritakan bahwa dikelasnya hanya berjumlah 14 orang yang terdiri dari 10 laki-laki dan 4 perempuan itu pun satu perempuan sudah menikah dan tidak melanjukan kuliyan dan satu perempuan jarang masuk karna merasa dirinya salah jurusan, tersisalah 12 orang. Lalu saya tersenyum dan saya penasaran apa mereka tidak pusing dengan jurusan filsafat? Sedangkan saya yang hanya mendapatkan mata kuliyahnya dua sks selama satu semester saja saya sudah nyerah. Dengan rasa penasaran saya mulai bertanya kepadanya “apa tidak pusing mengambil jurusan filsafat ? Sedangkan saya belajar filsafat umum hanya satu semester saja saya sudah menyerah???” Dia tersenyum dan mngatakan “saya juga belum mengerti apa itu filsafat tapi diiringi dengan Bismillahirohmannirrohim saya akan berusaha mendalami filsafat karena sudah menjadi tanggung jawab saya sudah memilih jurusan filsafat. Saya kagum dengan kesemangatannya yang amat tinggi dan membuat saya iri akan kesemangatannya, semoga apa yang diperjuangakannya bisa tercapai. Amiin ..

Semester ll sudah terlewati dan sekarang saya menginjak semester lll .. dan ternyata mata kuliah yang kurang saya sukai itu ada lagi yaitu filsafat. Namun, kali ini bukan filsafat umum akantetapi filsafat islam. Di minggu pertama dosennya tidak bisa masuk dan mulai masuk di minggu ke dua. Diminggu kedua, di isi dengan perkenalan dan sedikit diperkenalkan juga dengan filsafat. Dan kali ini mata kuliyah filsafat bukan di pegang oleh Dr Helmy Faizi Bahrul Ulumi M.Hum tapi di pegang oleh bapak Ahmad Fadil, Lc. M.Hum. ketika bapak Ahmad Fadil, Lc. M.Hum menjelaskan filsafat alhamdulillah saya sedikit bisa memahami filsafat dan pak ahmad fadhil pernah bertanya “menurut kalian filsafat itu seperti apa? Apakah negatif atau positif?”. Jelas dibenak saya filsafat itu negatif, tapi kemudian pak ahmad fadhil bertanya lagi “jika memang filsafat itu negatif, kenapa di adakan mata kuliyah filsafat di sini?”. Dan saya berfikir “iya juga siiih, jika itu berdampak negatif kenapa diadakan? .. dan kemudian pak ahmad fadhil menerangkan bahwa ilmu filsafat juga penting untuk di pelajari. 

Saya ambil kesimpulan bahwa ternyata ilmu itu penting dan tidak boleh meremehkan ilmu. Mungkin hanya itu pertama kali saya mengetahui filsafat. Harapan saya semoga saya bisa lebih baik lagi dalam mempelajari ilmu filsafat dan ilmu yang lainnya.

Aamiin..

Terimakasiih.

Wassalamualaikum Wr.Wb